PKB: Konflik Suku-Agama Berawal dari Persoalan Kemiskinan

"Kadang-kadang kita tidak pernah menyadari bahwa persoalan-persoalan seperti kemiskinan, persoalan-persoalan seperti keterbelakangan ekonomi, pendidikan, sudah menjadi hal yang kita hadapi sehari-hari," imbuhnya.
Faisol menuturkan, persoalan itu menimbulkan pikiran-pikiran maupun berbagai pandangan yang memicu dan menjadi dorongan konflik-konflik horizontal muncul di tengah-tengah masyarakat.
Oleh karenanya, Muhaimin Iskandar yang juga merupakan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat berupaya memperkecil angka kemiskinan sesuai dengan arah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dengan begitu, ucap Faisol, konflik horizontal dapat diredam.
"Agar tidak ada peluang orang-orang yang selama ini memiliki keterbatasan ekonomi berpikir bahwa ada persoalan-persoalan yang memicu timbulnya konflik-konflik horizontal," beber Faisol.
Ia pun berharap berbagai program yang digagas Presiden Prabowo mampu menyelesaikan dan memutus persoalan mendasar dalam struktur masyarakat.
Menurutnya, kekuatan, modal, dan kekayaan Indonesia sebagai bangsa terlalu besar untuk menjadi hambatan di mana persatuan dan kesatuan tidak bisa dibangun.
"Kekayaan-kekayaan inilah yang semestinya dijadikan modal untuk merawat perbedaan-perbedaan, merawat yang namanya perbedaan suku, perbedaan agama agar tetap ada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia," tandas Faisol.
Sebelumnya: Sekjen MPR Gaungkan 'Izakod Bekai Izakod Kai' di LCC 4 Pilar Papua Selatan
Selanjutnya: Iran Sebut AS Serang Lokasi Nuklir Darkhovin, PBB Selidiki
Artikel Terkait
- Pemprov Jabar Integrasikan Sekolah Maung dengan Dunia Industri
- Paniknya Ibu-ibu di Bogor Lihat 2 Ular King Cobra, Minta Bantuan Damkar
- Tidak Cocok dengan Micky van de Ven, Barcelona Fokus Cari Penyerang Baru
- Wakil Ketua DPRD Surabaya Dorong Semua OPD Buka Hotline Aduan Warga
- Kejagung Tegaskan Status Febrie Adriansyah Tersangka
- Gempa M 7,3 Guncang Meksiko
- AS Bombardir Iran 6 Jam, Teheran Balas Gempur Pangkalan Militer AS
- Air PAM di Jakbar Berpotensi Mati 5 Hari Mulai 17 Juli, 55.272 Pelanggan Terdampak
